BREAKING NEWS

 

Pelepasan Siswa SMA Negeri 1 Tanjung Bumi di Gedung Arab Wings Tarik Biaya Rp720 Ribu, Diduga Langgar SE Disdik Jatim



Bangkalan | Ungkapnews.com – Pada hari Rabu (13/5/2026), SMA Negeri 1 Tanjung Bumi, Bangkalan menggelar kegiatan pelepasan siswa kelas XII di Gedung Serbaguna Arab Wings, Kecamatan Banyuates Sampang, menuai sorotan setelah diduga ada penarikan biaya sebesar Rp720.000 per siswa.

Menurut informasi, biaya tersebut diperuntukan sewa gedung, konsumsi, dan perlengkapan acara. Yang jadi perdebatan, kostum guru dan panitia juga disebut masuk dalam hitungan.

Beberapa wali murid mempertanyakan pungutan tersebut karena dinilai membebani dan diduga tidak sesuai dengan Surat Edaran Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur terkait pelaksanaan kegiatan perpisahan dan pelepasan siswa di satuan pendidikan.

“Kami sudah bayar Rp720 ribu. Awalnya dikasih tahu untuk sewa gedung Arab Wings dan dokumentasi. Kalau sukarela tidak masalah, tapi ini disampaikan seolah wajib,” ujar salah satu wali murid yang meminta namanya tidak dipublikasikan.

Surat Edaran Dinas Pendidikan Jatim Nomor 420/xxx/101.1/2025 mengatur bahwa kegiatan perpisahan, pelepasan, atau sejenisnya tidak boleh memberatkan orang tua/wali siswa dan tidak boleh dipungut biaya yang bersifat wajib. 

Pungutan hanya diperbolehkan jika bersifat sukarela melalui mekanisme komite sekolah sesuai ketentuan yang berlaku.

Disdik Jatim sebelumnya telah mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar tidak menjadikan kegiatan perpisahan sebagai ajang 

pungutan yang memberatkan orang tua. Pelanggaran terhadap SE tersebut dapat berujung pada pembinaan hingga sanksi administratif bagi kepala sekolah.

Kepala SMA Negeri 1 Tanjung Bumi, Abdul Wahed saat dikonfirmasi memgatakan bahwa anak-anak memaksa agar semuanya diatur sendiri, dan menyatakan bahwa siswa sendirilah yang mengatur, sehingga ia mengaku tidak tahu menahu soal hal tersebut.

“Anak-anak memaksa silakan diatur sendiri, siswa semua sendiri yang mengatur saya tidak tahu menahu,” katanya, 

Ia menjelaskan, ide awalnya acara digelar di sekolah. Namun siswa menilai halaman panas dan sewa tenda besar justru lebih mahal, sekitar Rp15 juta. Setelah dicek, sewa Gedung Arab Wings dengan sound, tenda, dan kursi hanya sekitar Rp6 juta. 

“Kalau di sekolahan pakai terop yang besar itu mahal. Sedangkan kalau sewa di gedung itu lebih murah. Itu anak-anak yang sumbangan sendiri,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa anak-anak menabung Rp25 ribu per bulan. Sisanya, menurutnya, diatur sendiri oleh siswa dan akan dikembalikan apabila ada sisa. Ia juga mengaku takut dan malu jika seluruh biaya persewaan dibebankan kepada anak-anak.

“Itu anak-anak menabung Rp25 ribu per bulan. Sisanya diatur sendiri dan nantinya dikembalikan kalau ada sisa. Saya takut dan malu kalau semua persewaan diambilkan dari anak-anak. Kalau guru itu sekolah gratis. Biasanya dulu guru-guru bayar sendiri.” tegas Wahed.

Kepala sekolah menyebut acara ini lebih tepat disebut tasyakuran, bukan wisuda. Tujuannya murni untuk kenang-kenangan siswa yang ingin foto bersama dan merayakan kelulusan. 

“Saya beraninya mengadakan acara ini karena semua yang mengelola itu siswa. Tidak ada satupun guru yang ikut mengelola. Saya hanya menyuruh guru untuk dampingi karena takut gagal, namanya siswa. Intinya siswa-siswi itu minta kenang-kenangan, minta photo, untuk terakhir kelulusan.” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Cabang Dinas Pendidikan wilayah Bangkalan dan Dinas Pendidikan Jatim belum memberikan tanggapan resmi. Padahal aturan sudah jelas: sekolah negeri dilarang menjadikan perpisahan sebagai ajang yang memberatkan orang tua.

Kasus ini kembali menyoroti batas tipis antara inisiatif siswa dan tanggung jawab sekolah. Di satu sisi, siswa ingin kenang-kenangan yang berkesan. Di sisi lain, negara sudah mengikat aturan agar sekolah negeri tidak jadi ajang komersialisasi. (Achmad).

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image