Kades Pesanggrahan Bantah Gelapkan Bansos, Ngaku Tak Tahu 140 Sak Beras Dibagi Tanpa Sepengetahuannya
Bangkalan |Ungkapnews.com - Polemik dugaan penggelapan bantuan sosial (bansos) berupa beras dan minyak goreng di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan, terus menjadi perhatian publik. Kepala Desa Pesanggrahan, Sudaryanto, membantah tegas tuduhan yang menyebut dirinya menggelapkan bantuan pangan yang diperuntukkan bagi masyarakat.
Sudaryanto menegaskan seluruh proses penyaluran bantuan dilakukan sesuai kondisi di lapangan dan tidak pernah ada niat untuk menyembunyikan maupun menguasai bantuan tersebut. Ia menjelaskan, bantuan yang biasanya diturunkan di balai desa terpaksa dialihkan ke rumah salah satu aparat desa karena balai desa tidak dapat digunakan saat truk Bulog datang.
Menurutnya, saat bantuan tiba, kunci balai desa belum ditemukan. Selain itu, ukuran kendaraan pengangkut yang cukup besar membuat truk tidak bisa masuk ke halaman balai desa sehingga bantuan sementara diturunkan di lokasi lain sebelum dibagikan kepada penerima manfaat.
“Sejak dulu bantuan sosial memang selalu diturunkan di balai desa. Waktu itu kunci balai desa belum ketemu, sementara beras sudah datang. Kendaraan Bulog juga tidak bisa masuk ke balai desa karena ukurannya terlalu besar. Jadi bukan karena ada niat menyembunyikan atau menggelapkan bantuan,” ujar Sudaryanto kepada wartawan, Senin (6/7/2026).
Ia juga membantah keras tudingan adanya penggelapan bantuan beras maupun minyak goreng yang belakangan ramai diperbincangkan masyarakat.
Yang menjadi sorotan, Sudaryanto mengaku tidak mengetahui adanya sekitar 140 sak beras yang disebut telah dibagikan kepada warga tanpa sepengetahuannya. Ia mengaku baru mengetahui informasi tersebut setelah meminta penjelasan kepada pendamping program bantuan.
“Saya membantah keras tudingan penggelapan bantuan beras maupun minyak. Soal sisa sekitar 140 sak beras itu saya juga tidak mengetahui. Setelah saya tanyakan kepada pihak pendamping, saya mendapat penjelasan bahwa beras tersebut sudah dibagikan kepada penerima manfaat, bahkan tanpa sepengetahuan saya sebagai kepala desa,” katanya.
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme distribusi bansos di tingkat desa. Jika benar sebagian bantuan disalurkan tanpa sepengetahuan kepala desa, kondisi itu menunjukkan adanya dugaan lemahnya koordinasi antarpetugas yang terlibat dalam proses pendistribusian.
Sudaryanto menyatakan siap memberikan keterangan kepada aparat penegak hukum apabila dibutuhkan. Ia berharap persoalan tersebut dapat diusut secara terbuka agar masyarakat memperoleh kepastian mengenai fakta yang sebenarnya.
“Silakan jika memang perlu dilakukan pemeriksaan. Saya siap memberikan keterangan sesuai fakta yang saya ketahui. Yang saya inginkan persoalan ini terang benderang sehingga masyarakat tidak lagi menerima informasi yang simpang siur,” ujarnya.
Terkait dugaan kekurangan bantuan, Sudaryanto mengakui memang ada permintaan dari anaknya untuk mengambil lima sak beras dan lima botol minyak goreng. Namun, ia membantah jumlah tersebut mencapai 19 sak beras sebagaimana disebut pendamping bansos.
“Memang benar anak saya meminta lima sak beras dan lima botol minyak goreng. Tetapi kalau disebut kekurangannya sampai 19 sak beras, saya tidak tahu dasar perhitungannya,” ungkapnya.
Sementara itu, pendamping bansos Bulog Korcam Kwanyar, Hadiri, menyampaikan bahwa pihaknya menemukan adanya selisih distribusi setelah proses penyaluran tahap pertama selesai dan dilakukan pencocokan data.
“Kami hitung dan kami sinkronkan datanya, ternyata terdapat kekurangan sebanyak 19 sak beras dan 112 botol minyak goreng,” jelas Hadiri.
Menurut Hadiri, informasi mengenai dugaan pengambilan bantuan tersebut diperoleh dari salah satu aparat Desa Pesanggrahan bernama Amin. Berdasarkan keterangan yang diterimanya, dua anak kepala desa disebut mengambil bantuan beras, meski jumlahnya tidak diketahui secara pasti.
“Justru kami tahunya dari pernyataan Pak Amin, salah satu apel Desa Pesanggrahan. Kata Pak Amin, dua anak kepala desa yang mengambil bansos beras itu. Tetapi berapa jumlah yang diambil kami tidak tahu. Yang jelas hasil perhitungan kami, beras berkurang 19 sak, sedangkan minyak goreng berkurang 112 botol,” tuturnya.
Perbedaan keterangan antara kepala desa dan pendamping bansos kini menjadi perhatian. Di satu sisi, Sudaryanto membantah melakukan penggelapan serta mengaku tidak mengetahui adanya distribusi sekitar 140 sak beras tanpa sepengetahuannya. Di sisi lain, pendamping bansos mencatat adanya selisih distribusi berdasarkan hasil sinkronisasi data dan informasi dari aparat desa.
Kasus ini diharapkan dapat diusut secara transparan oleh pihak berwenang agar penyebab pasti kekurangan bantuan dapat diketahui, sekaligus memastikan penyaluran bansos kepada masyarakat berjalan sesuai ketentuan dan tidak lagi menimbulkan polemik.
Penulis : JamaL






